Monday, 15 December 2008

Caesar, tak sekedar menguras fulus


Caesar, Tak Sekedar Menguras Fulus

Bedah caesar atau yang disebut juga dengan c-section adalah proses persalinan dengan melalui pembedahan dimana irisan dilakukan di perut ibu (laparatomi) dan rahim (histerotomi) untuk mengeluarkan bayi. Bedah caesar umumnya dilakukan ketika proses persalinan normal melalui vagina tidak memungkinkan karena beresiko kepada komplikasi medis lainnya. Sebuah prosedur persalinan dengan pembedahan umumnya dilakukan oleh tim dokter yang beranggotakan spesialis kandungan, spesialis anak, spesialis anastesi serta bidan.

Belakangan ini, proses persalinan dengan jalan Caesar seolah menjadi trend. Jumlah peminatnya kian waktu terus meningkat. Di Indonesia, persalinan Caesar di rumah sakit pemerintah sekitar 11-15% dan di rumah sakit swasta saat ini dapat mencapai 30-40%. Kondisi serupa juga terjadi di negara lain. Di Amerika serikat misalnya, prevalensi persalinan caesar sekitar 29,1%. Rata –rata prevalensi Caesar di negara lain di dunia adalah sekitar 5-15% .

Badan Kesehatan Dunia memperkirakan bahwa angka persalinan dengan bedah caesar adalah sekitar 10% sampai 15% dari semua proses persalinan di negara-negara berkembang Berbagai pertimbangan mengemuka akhir-akhir ini mengingat proses bedah caesar yang seringkali dilakukan bukan karena alasan medis.

Berbagai kritik pula mengemuka karena bedah caesar yang disebut-sebut lebih menguntungkan rumah sakit atau karena bedah caesar lebih mudah dan lebih singkat waktu prosesnya oleh dokter spesialis kandungan. Kritik lainnya diberikan terhadap mereka yang meminta proser bedah caesar karena tidak ingin mengalami nyeri waktu persalinan normal. Berdasarkan sebuah studi, jumlah operasi Caesar yang direncanakan (tanpa alasan medis) meningkat sampai 30%. Padahal, jika dilihat dari cost yang harus dikeluarkan, cukup menguras fulus.

Percayalah, jika semua tindakan tidak ada yang luput dari resiko, begitu pula caesar. Setidaknya itulah yang dikatakan oleh dr. Andon Hestiantoro, Sp.O.G. Menurut beliau, persalinan dengan bedah Caesar terkait dengan kematian ibu justru 3 kali lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal. Angka kematian langsung akibat persalinan Caesar adalah sekitar 5.8 per 100.000 persalinan.

“Persalinan dengan bedah Caesar memiliki angka kesakitan lebih tinggi yaitu sekitar 27.3% dibandingkan dengan persalinan normal yang hanya sekitar 9% saja,” ungkap dokter spesialis obstetri dan ginekologi dari fakultas kedokteran Universitas Indonesia.

Umumnya, caesar baru bisa ditempuh ketika ada indikasi medis. Dengan kata lain, tindakan caesar dilakukan ketika proses persalinan normal (vaginal) mengamcam keselamatan nyawa si ibu juga janin. Bisajuga dilakukan saat dokter nemenukan riwayat penyakit tertentu yang diderita si ibu sehingga tidak memungkinkan untuk melahirkan secara konvensional.

Beberapa indikasi medis persalinan Caesar:
1. Indikasi ibu:
a. Eklampsia (kejang dalam kehamilan)
b. Panggul sempit
c. Plasenta menutupi jalan lahir
d. Kelainan jantung pada ibu
e. Persalinan macet
f. Perdarahan banyak selama kehamilan
g. Infeksi dalam rahim
h. Dinding rahim yang menipis akibat bedah caesar atau operasi rahim sebelumnya.
i. Tumor dirahim, di indung telur atau di vagina yang menghalangi jalan lahir
2. Indikasi janin
a. Gawat janin
b. Bayi besar
c. Bayi letak lintang
d. Kehamilan triplet atau lebih
e. Kembar siam
f. Janin hidrosepalus

Namun, dokter Andon menuturkan, saat ini terjadi kecenderungan lain untuk indikasi persalinan dengan bedah Caesar. “Indikasi tersebut seringkali tidak sesuai dengan indikasi medis,” tuturnya. Beberapa indikasi bedah Caesar yang tidak sesuai dengan indikasi medis diantaranya adalah:
1. Faktor sosial:
a. Suami terlampau cemas dan menganggap istrinya tidak sanggup melahirkan normal
b. Suami kuatir vagina istri menjadi longgar
c. Riwayat infertilitas
d. Memilih waktu dan tanggal kelahiran
2. Faktor pemahaman ibu hamil yang salah
a. Lebih nyaman melahirkan dengan bedah Caesar karena tidak sakit
b. Melahirkan Caesar lebih aman dibandingkan dengan persalinan normal
c. Melahirkan Caesar bayi lebih pintar
d. Kuatir untuk dilakukan vakum atau forseps pada persalinan normal
e. Kuatir kepala bayi terjepit saat persalinan normal

Peningkatan risiko kesakitan bagi ibu hamil akibat persalinan Caesar yang dibandingkan dengan persalinan normal yaitu:
1. 5 kali lebih besar untuk mengalami henti jantung
2. 3 kali lebih besar untuk dilakukan pengangkatan rahim (histerektomi)
3. 3 kali lebih besar untuk mengalami infeksi masa nifas
4. 2.3 kali lebih besar untuk mengalami komplikasi anestesi
5. 2.2 kali lebih besar untuk mengalami sumbatan pembuluh darah
6. 2.1 kali lebih besar untuk mengalami perdarahan banyak yang seringkali berakhir dengan pengangkatan rahim
7. 1.5 kali lebih besar untuk lebih lama dirawat di rumah sakit
Peningkatan risiko tidak hanya terjadi pada ibu, namun juga terjadi peningkatan risiko bagi bayi yang baru lahir terkait dengan cara persalinan Caesar. Seperti halnya, beresiko akan kematian bayi itu sendiri, gangguan pernafasan, trauma dan gangguan otak bayi. “Risiko yang dialami bayi baru lahir terkait persalinan Caesar adalah 3.5 kali lebih besar dibandingkan dengan persalinan normal,” terang Andon

Apapun alasannya, namun yang pasti, setiap wanita hamil patut cermat menentukan proses persalinan yang hendak dilakukan. Sebab, cara persalinan merupakan hal yang sangat penting, karena sangat terkait dengan angka kematian dan angka kesakitan baik bagi ibu maupun bagi bayi yang baru dilahirkan. by: zoel 9 months

4 comments:

subagya said...

Artikelnya menarik, menambah wawasan buat saya yang masih lajang, dan memberikan informasi kepada calon pasangan nantinya.

purnamadani said...

@ subagya : terimakasih komentarnya mas mochal. semoga menambah wawasan Anda

pu3 said...

haduuhh...takutttttttttttttttttttttttttttt
=(

9months said...

@ pu3 : yg ditakutkan apanya ....
pasrah pada Allah, insyallah semua bisa dijalani dengan lancar kan..